Kala itu usiaku baru 6 tahun. Aku mengingatnya sebagai seorang yang senang akan hal-hal baru, bermain dan pergi ke sekolah serta mengaji. Aku menyukai aktivitas pagi hari saat berangkat ke sekolah, tidak sabar untuk segera pulang saat lonceng dipukul. Segera menuntaskan makan siang agar bisa bermain di kebun. Berangkat mengaji menjelang sore atau bermain ke lapangan dan sungai disekitar lapangan untuk menemukan hal-hal yang telah dipelajari di sekolah. Aku berpikir, aku adalah seorang ilmuwan yang aktif kesana kemari. Aku manusia kuat yang bisa berlari kencang, memanjat pohon hingga puncak sembari melihat sekeliling dari ketinggian yang tak biasa. Aku tidak takut dengan anak laki-laki yang sukanya membuat anak perempuan menangis, aku adalah pemimpin di sekolahku, aku bisa diandalkan dalam berbagai mata pelajaran. Aku anak yang penurut dan dikenal di kalangan lingkunganku. Yang kutakuti hanya Ayah, Kepala Sekolah dan Kepala TPQ ku. Hingga aku sadar pikiranku agak keliru, saat aku m...