Langsung ke konten utama

BAB I : AKU ANAK PEREMPUAN

Kala itu usiaku baru 6 tahun. Aku mengingatnya sebagai seorang yang senang akan hal-hal baru, bermain dan pergi ke sekolah serta mengaji. Aku menyukai aktivitas pagi hari saat berangkat ke sekolah, tidak sabar untuk segera pulang saat lonceng dipukul. Segera menuntaskan makan siang agar bisa bermain di kebun. Berangkat mengaji menjelang sore atau bermain ke lapangan dan sungai disekitar lapangan untuk menemukan hal-hal yang telah dipelajari di sekolah.

Aku berpikir, aku adalah seorang ilmuwan yang aktif kesana kemari. Aku manusia kuat yang bisa berlari kencang, memanjat pohon hingga puncak sembari melihat sekeliling dari ketinggian yang tak biasa. Aku tidak takut dengan anak laki-laki yang sukanya membuat anak perempuan menangis, aku adalah pemimpin di sekolahku, aku bisa diandalkan dalam berbagai mata pelajaran. Aku anak yang penurut dan dikenal di kalangan lingkunganku. Yang kutakuti hanya Ayah, Kepala Sekolah dan Kepala TPQ ku. Hingga aku sadar pikiranku agak keliru, saat aku mengenal pesona pada lelaki.

Waktu itu aku tidak mengerti tentang cara orangtuaku mendidikku. Yang kuingat hanyalah banyaknya bentuk keleluasaan dalam mengatur ritme masa kecilku. Bagaimana aku diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat asal tidak dengan nada membentak, kebebasan dalam bermain asal ingat jam sekolah mengaji dan waktu magrib dan kebebasan menentukan waktu tidur asal bisa menunaikan sholat subuh dan tidak terlambat ke sekolah.
Pikiranku yang mendoktrin bahwa aku anak cerdas membuatku ingin mengetahui banyak hal. Aku banyak bergauul dengan anak yang jauh lebih tua saat bermain. Saat waktu senggang di lingkungan keluarga, aku lebih memilih berbincang dengan sanak saudara yang lebih tua. Hampir tidak kuingat masa bermain bersama adikku, yang terpaut usia 11 bulan. Sepertinya aku meremehkannya. Di sekolah isi pembicaraanku tak jauh-jauh dari kalimat perintah kepada teman sebayaku, sering nongkrong di ruang guru dan perpustakaan. Ada semacam arogansi yang mendorongku bisa membaca lebih cepat dan lebih banyak, meresensi adalah keahlian pertama saat tumbuh kembangku. Sangat mudah bagiku merangkum pelajaran saat diminta menjadi penulis di papan tulis, agar efektif dan tidak terlalu banyak tulisan. Hanya hitungan menit bagiku membuat puisi sederhana dan mengarang sebuah tulisan realita. Hal ini didukung oleh situasi di sekelilingku yang suka memuji dan memberikan dorongan untuk membaca banyak buku meski tidak kumengerti sekalipun.

Hanya saja pikiran-pikiran positifku agak tergangu ketika aku mulai menyadari perbedaan fisik yang kualami. Aku seorang yang alergi kulit, entah itu air kotor, beberapa jenis makanan dan terlalu banyak beraktivitas dibawah terik matahari. Di usia yang sangat dini, aku sudah mengerti artinya kegemukan, yang setelah kuingat kembali sekarang ternyata hal itu terjadi karena aku salah memilih ukuran saja. Aku merasa keringatku seringkali berlebihan, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman saat beraktivitas di lingkungan formal. Pakaian-pakaian yang kukenakan juga tidak sebagus teman-temanku. Aku mulai mengenal rasa rendah diri. 

Tapi entah bagaimanan pola pikirku saat itu, aku memutuskan untuk giat belajar, mempelajari keterampilan dan fasih mengaji serta berbahasa asing. Bahasa Arab dan Inggris pertama kali kupelajari di usia 6 tahun, secara aktif mengikuti berbagai perlombaan pidato. Aku memperkuat hafalan agar bisa jadi senior lebih cepat. Aku tekun mengulas pelajaranku sesaat sebelum tidur dan menghafal surah-surah pendek Alquran lebih banyak. Akan tetapi sesekali aku merenung, memikirkan apa yang kuhadapi di masa depan nanti. Bahkan aku mempercayai kebohongan salah satu temanku sehingga menjadi sugestiku hingga menjelang dewasa tentang gari tangan di telapak tanganku. Tentang kerumitan hidup yang akan kuhadapi berdasarkan guratan-guratan halus samar-samar dan jumlah anak yang akan kuperoleh saat menikah kelak, hanya ada dua.

Pelajaran emansipasi perempuan kudapatkan di kelas 4, saat mengulas studi kasus tentang kepemimpinan dalam mata pelajaran PPKN. Saat itu yang mengajar adalah guru perempuan sekaligus Kepala Sekolah. Sang guru meminta kami membaca secara bergilir beberapa paragraf dan dipilih acak. Setelah itu Guru menanyakan pendapat kami tentang bagaimana kepemimpinan laki-laki dan perempuan.

“Apakah perempuan boleh menjadi pemimpin?” tanya Bu Guru sambil berjalan ke ruang tengah kelas.
“Ayo, siapa yang ingin mencoba menjawab?” tanyanya lagi sembari melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Beberapa anak mulai mengangkat tangannya, termasuk aku.
“Boleh, Bu!” Jawab teman 1 ku.
“Alasannya?” Tanya Bu Guru lagi
“Kan sama-sama manusia, Bu.” Jawabnya klise, Bu Guru tersenyum, mencari penjawab lainnya.
“ Tidak boleh, Bu, karena lelaki diciptakan sebagai pemimpin, seperti bapak yang memimpin keluarga.” Jawab teman 2.
“Saya, Bu! Yang boleh jadi pemimpin itu laki-laki, Bu. Laki-laki kan kuat, bisa menolong melawan penjahat dan mengangkat karung beras.” Jawab teman 3. Ibu Guru hanya tertawa menganggukan kepala, tapi kami menanggapinya serius. Masih ada beberapa pendapat lain laginya hingga tiba giliranku yang dipilih untuk menjawab.
“ Boleh, Bu. Jadi pimpinan yang tidak terlalu besar jumlahnya, seperti ketua kelas atau pimpinan regu pramuka. Kalau Presiden harus laki-laki, Bu, lebih pantas dan sesuai perintah agama….” Jawabku mencoba mengambil jalan tengah tetapi tersendat di ujung jawaban, saat aku menyadari kalau guruku pun adalah seorang pemimpin perempuan berskala besar, pimpinan sekolah, aku hanya menelan ludah tidak sanggup memperbaiki kesalahan kalimatku. Bu Guru kembali tersenyum dan menyudahi jajak pendapatnya, dan menjelaskan makna dari jawabannya.
“ Kita sudah belajar tentang Hak Asasi, bukan? Nah, setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama, hanya saja kadarnya yang berbeda. Jadi perempuan boleh-boleh saja menjadi pemimpin, bahkan presiden sekalipun. Ada loh negara yang dipimpin oleh perempuan. Di Inggris contohnya, yang  memakai sistem kerajaan. Pemimpinnya dipanggil dengan sebutan Ratu Elizabeth. Asal tidak meninggalkan kodratnya masing-masing.” Papar Bu Guru berhenti sejenak.
“Apa itu kodrat? Sesuatu yang harus dilakukan dan dimiliki oleh manusia, tidak bisa dihindari dan tidak bisa digantikan. Kodrat inilah yang membuat perbedaan laki-laki dan perempuan. Seperti kodrat perempuan yang harus haid, melahirkan dan menyusui. Kan tidak bisa dilakukan dan digantikan oleh laki-laki. Kemudian perempuan bentuk tubuhnya akan berbeda saat masa puber nanti, kalau laki-laki akan ada perubahan suara dan beberapa akan tumbuh kumis atau jenggot. Seperti itulah kira-kira. Selain kodrat yang melekat, semuanya sama kedudukannya di masyarakat.” Jelas Bu Guru sesaat sebelum lonceng tanda istirahat berbunyi.

Sejak mendengar penjelasan itu, aku merasa bersalah dan kembali memikirkan kembali perkataan guruku, seiring berjalannya waktu arogansiku mulai muncul sebagai manusia bebas dan berakal, yang hanya takut dengan tiga jenis orang di atas.

Selain berpikir kritis, akupun mulai berangan kembali jika aku mulai duduk sendiri merenungkan banyak hal yang tdiak begitu kupahami esensinya. Aku sempat minder karena semua pakaianku merupakan lungsuran dari kakak perempuanku, termasuk mukena. Bahkan tak jarang aku memakai mukena ibuku. Aku pernah berpikir sekilas, seandainya aku mendapatkan mukena baru milikku sendiri, pasti aku akan rajin sholat dan tepat waktu. Di masa depan ternyata aku tidak begitu janjiku itu, aku mendapatkan mukena baru dengan mudahnya, bahkan berlebih, tapi tetap saja aku pernah bolong dalam sholat dan sholat di akhir waktu. Aku pun pernah memikirkan perjalanan karirku sebagai perempuan dewasa kelak. Aku akan tinggal di kota besar, dengan bayak aktivitas dan kerja kantoran, waktu luangku akan kugunakan untuk menulis dan duduk di cafe. Itu gambaran anganku, karena kebanyakan baca novel atau nonton sinetron.


Akibat pikiranku tentang masa depan, aku sering merasa dihinggapi rasa minder, putus asa dan beban yang berat. Aku lebih suka mendengarkan pembicaraan orang dewasa dan merenung di atas pohon atau pinggir sungai, aku juga mulai menulis buku diari.

Komentar